Purwokerto Juli, 2010 tepatnya di kawasan Kampus Universitas Jenderal Soedirman, ada sekumpulan pemuda yang belum jelas asal usulnya dari mana, tapi karena erat-nya ikatan persaudaran, sehingga mereka tidak peduli bagaimana riwayat hidupnya. Pemuda itu adalah Dymbronk, Bang Kamal, Rizdol, Bayu, Adit, Budi, FurCon, Galih, dan Azhar yang sama – sama mahasiswa cerdas Unsoed Purwokerto Fakultas Pertanian. Sampai saat ini kelakuan pemudad - pemuda tersebut memang belum jelas, karena disitulah seni-nya sehingga tanpa disengaja timbul suatu ide cemerlang, yaitu membetuk suatu komunitas yang namanya KOMPENI (Komunitas Mahasiswa Pecinta Seni).
…………………………………………………………………………………………………….
Awal mula cerita adalah iseng main band bersama, saat itu menjelang kontes band tingkat internasional di Puorto-rico, maka Dymbronk dan rizdol ikut serta, dan mengundang bang kamal yang saat itu orang asing di antara mereka, namun merupakan teman kelas Dymbronk, dalam Jenderal Tatib Band. Sebelumnya Jenderal Tatib sudah mempunyao vokalis, bernama Sam Mozer, yang kurang pas dengan music Jendtib sehingga dia mengundurkan diri, dan lebih memilih berdagang.
Pada bulan Mei 2010, personil tetap Jendtib telah lengkap, yaitu Dymbronk (gitar), Ody (Gitar II), Dymaz (Bass), dan Rizdol (Drum). Tetapi dengan keluarnya Sam Mozer maka posisi vokalis kosong. Lalu tanpa ragu Jendtib melakukan audisi vokalis, namun gagal memperoleh vokalis, dan tanpa sengaja Bang Kamal selaku Juri Pembantu mulai melantunkan suaranya, dan iseng ngejam, gak tau-nya cocok, dan dimulai lah era vokalis Jendtib baru dengan posisi vokalis adalah Kamal. Saat itu di Fakultas Pertanian terkenal vokalis dengan suara barat, tepatnya Sumatera Barat, yaitu Bang Kamal.
kontes band internasional Puorto-rico telah 2 berlalu, namun karena Jendtib mengundurkan diri pada audisi tahap III di Kairo Mesir karena ada Ujian Akhir Semester. Prinsip mereka adalah Unggul dalam Prestasi dan Santun dalam Perilaku. Memang semua yang dilakukan tidak menghasilkan apa yang diharapkan, namun lebih baik seperti itu daripada ketika menjadi pemenang kuliah terganggu karena jadwal konser yang padat. Selama nge-band Bang Kamal, Rizdol, dan Dymbronk sering kumpul bersama, saling berbagi pengalaman baik dan buruk.
…………………………………………………………………………………………..
Pada Agustus 2010 Jendtib diundang sebagai guess star HUT Himpunan Mahasiswa Agroteknologi (HIMAGROTEK) yang notaben-nya adalah himpunan profesi para personil Jendtib sendiri. Panitia pelaksana sempat berterus terang mengenai fee untuk Jendtib, karena band sekelas itu menjadi guess star kelas kampus. Akhirnya dengan rasa ingin mengenal dan memeriahkan acara himpunan mereka, Budi selaku Kepala Management Jendtib memberikan FREE pay untuk konser tersebut.
Permasalahan yang timbul adalah Bang Kamal saat itu sedang mengikuti Lomba Karya Tulis Nasional di Bali dan tidak dapat ikut serta dalam konser tersebut. Akhirnya tanpa pikir panjang, Rizdol mempunyai rekan kelas bernama Ilham, sebagai vokalis Jendtib sementara. Kontrak Ilham hanya berakhir setelah acara tersebut karena dia lebih memilih berdakwah bersama ikhwan lainnya.
………………………………………………………………………………..
3 Agustus 2010, Bayu, selaku rekan kelas Dymbronk, mempunya rekan bisnis di Juguran Café Purwokerto, ingin mengadakan kontrak dengan Jendtib untuk bisa ngejam di café tersebut. Tetapi lagi – lagi Kamal sedang mengikuti Seleksi Mahasiswa Berprestasi di Lombok, dan tidak bisa jadi vokalis lagi. Melihat skill Bayu dalam melantunkan lagu – lagu klasik, akhirnya vokalis Jendtib tetap adalah Bayu. Sampai saat ini vokalis Jendtib masih tetap Bayu, karena Kamal masih sibuk dengan Karya – karya ilmiahnya.
…………………………………………………………………………………
14 November 2010, tepatnya di Libero Café, setelah Jendtib dan kawan – kawan mengisi class music di café tersebut, berkumpul-lah sahabat – sahabat dan saling berinteraksi. Tertawa riang bersama.
Dalam suasana remang tersebut tercetus berbagai ungkapan – ungkapan yang sebenarnya kurang baik didengar, namun menarik. Yaitu Rizdol dulu pernah ikut organisasi seni kampus, namun tidak mendapat manfaat yang berharga untuk hidup, menurut dia. Ditambahkan lagi oleh FurCon yang baru saja bergabung dengan organisasi sama, merasakan kurang nyaman disana. Dan banyak tambahan – tambahan lagi dari sahabat lain. Sehingga demi menjaga jiwa – jiwa seni di dalam diri sahabat – sahabatnya, Dymbronk mencetuskan suatu komunitas bersama sebagai wadah seni dan bukan untuk menyaingi organisasi formal seni lainnya.
Suasana remang berubah membara setelah Kamal memberikan pendapat bahwa komunitas ini dapat mengganggu ketentraman di kampus. Begitu lama membahas masalah tersbut, hingga akhirnya Adit selaku mantan calon Presiden BEM yang tidak terpilih, mengajukan pendapatnya, bahwa, lakukanlah apa yang harus dilakukan. Sampai pukul 3 dini hari masih membahas masalah yang spontan tersebut, akhirnya dengan penuh pasti dan mengharap bantuan dari Allah Swt, mereka siap membentuk komunitas seniman. Dymbronk mencetuskan nama komunitas tersebut, “KOMPENI singkatan Komunitas Mahasiswa Pecinta Seni”. Akhirnya terbentuklah komunitas seniman yang adil dan beradab. Dimulailah era seniman baru yang masih gonjang – ganjing rada janggal, karena belum dewasa.
………………………………………………………………………………..
No comments:
Post a Comment